Home » » PENCAMPURAN PUPUK ORGANIK

PENCAMPURAN PUPUK ORGANIK

Written By jual peralatan laboratorium on Saturday, January 4, 2014 | 6:58 PM

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pupuk merupakan material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen (Wikipedia, 2010).
Setiap bahan yang diberikan kedalam tanah atau disemprotkan ke tanaman untuk  menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Suatu bahan yang diberikan sehingga dapat mengubah keadaan fisik, kimia dan biologi tanah agar sesuai dengan tuntutan tanaman. Pemupukan merupakan setiap usaha pemberian pupuk yang bertujuan menambah persediaan unsur2 hara yang dibutuhkan tanaman untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil tanaman (Irawan, 2010).
Pupuk anorganik dalam prosesnya dapat dicampur dengan pupuk lain, hal ini dilakukan agar memudahkan dalam proses pemakaian dilapangan. Pada proses pencampuran pupuk ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu sifat pupuk (kadar unsur hara, kelarutan, higroskopis dan pH pupuk). Pupuk anorganik yang satu dengan yang lain ada yang dapat dicampur, ada yang dapat dicampur tetapi harus segera dipergunakan dan tidak dapat dicampur. Praktikum pencampuran pupuk anorganik ini dimaksudkan agar mahasiswa mengetahui jenis pupuk yang dapat dicampur atau tidak, sebagai informasi dalam proses pencampuran pupuk dilapangan dalam skala besar.
Pelaksanaan pemupukan dianjurkan diberikan sendiri-sendiri, tetapi pelaksanaan di lapangan agar tenaga, waktu dan biaya lebih dihemat sering dilaksanakan pencampuran pupuk tunggal. Untuk kegiatan ini diperlukan pengetahuan tersendiri dengan suatu permasalahan pokok : Apakanh masing-masing pupuk tunggal itu bisa bercampur dengan pupuk tunggal lain, untuk itu perlu diujikan di laboratorium, karena tidak semua pupuk tunggal yang dicampur berada pada titik akhir. Kadang menjadi menggumpal, mencair, rusak atau bahkan menjadi satu senyawa yang justru berakibat hara pupuk menjadi tidak tersedia.

1.2 Tujuan
Praktikum pencampuran pupuk anorganik ini diharapkan :
1.      Agara mahasiswa mampu mencampur pupuk anorganik dengan baik
2.      Agar mahasiswa mengetahui pupuk anorganik yang dapat dicampur atau tidak dapat dicampur.


BAB 2. BAHAN DAN METODE

2.1  Waktu dan Tempat
Praktikum pupuk dan pemupukan dilaksanakan pada hari Jum’at/ 15 Januari 2010. Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium tanah Politeknik Negeri Jember.

2.2  Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan yaitu : petridis, dan sendok. Bahan-bahan yang digunakan  yaitu : pupuk anorganik (Urea, ZA, ZK, SP-36, KCl).

2.3  Metode Praktikum
Praktikum pencampuran pupuk dilakukan di laboratorium tanah. Alat dan bahan disiapkan terlebih dahulu. Petridis dipersiapkan kemudian pupuk dicampur masing-masing dengan tabel pencampuran sebagai berikut :

Urea
KCl
SP-36
ZA
ZK
Urea

1
2
3
4
KCl
1

5
6
7
SP-36
2
3

8
9
ZA
4
5
6

10
ZK
7
8
9
10


Setelah itu petridis yang digunakan ada yang memakai perlakuan petridis ditutup dan peralkuan petridis dibuka, diberi label lalu disimpan di suhu ruang.

BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Table 3.1 Pengamatan Pencampuran Pupuk
No
Tanggal Praktikum
Perlakuan
Hasil Pengamatan
18 Jan 2010
20 Jan 2010
1
15 Januari 2010
Petridis Tertutup




a. ZK + SP-36
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan


b. KCl + SP-36
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan


c. ZK + KCl
Padat
basah


d. ZK + ZA
Padat
padat


e. KCl + ZA
Padat
padat


f. ZA + SP-36
Padat
padat


g.Urea + KCl
Padat
Padat dan basah


h. Urea + SP-36
Padat dan basah
Padat dan basah


i. Urea + ZA
Padat dan basah
Padat dan basah


j. Urea + ZK
Basah
mencair
2
15 Januari 2010
Petridis Terbuka




a. ZK + SP-36
Tidak ada perubahan
Tidak ada perubahan


b. KCl + SP-36
Lembek dan basah
Mencair dan lembek


c. ZK + KCl
Padat dan basah
Padat dan basah


d. ZK + ZA
Padat
padat


e. KCl + ZA
Padat
mencair


f. ZA + SP-36
Padat
padat


g.Urea + KCl
mencair
mencair


h. Urea + SP-36
Padat dan mencair
Padat dan mencair


i. Urea + ZA
mencair
mencair


j. Urea + ZK
mencair
mencair

3.2 Pembahasan
Penggunaan pupuk pada tanah pertanian dimulai bersamaan dengan sejarah pertanian itu sendiri. Pengunaan senyawa-senyawa kimia untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik baru dimulai kurang lebih seratus tahun yang lalu. Namun sekarang senyawa-senyawa kimia tersebut merupakan keharusan ekonomi bagi kebanyakan tanah (Hanum, 2008).
Penggunaan senyawa kimia ini dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan harus dilakukan mengikuti kaedah kesehatan dan keselamatan kerja. Bahaya bahan kimia yang terkandung dalam pupuk sebenarnya tergantung dari si pemakainya. Bila pemakai nya menggunakan secara baik, tepat dan benar tentu saja tidak berbahaya. Dan sebaliknya, penggunaan dosis yang berlebihan tanpa pertimbangan disertai aplikasi  yang tidak memberikan perlindungan telah memperpanjang sisi negatif pupuk itu sendiri. Tidak sedikit kasus yang terjadi pada petani seperti sesak nafas, gangguan pencernaan, keracunan dan berbagai kasus lainnya. Disadari atau tidak, pengetahuan yang minim dari pemakai pupuk yang mengandung amonia (NH3+) dalam hal ini para petani secara langsung maupun tidak membuat aplikasi pupuk amonia menjadi membahayakan dan memberikan efek samping bagi penggunanya. Padahal bila kita melakukan aplikasi sesuai prosedur menurut dosis, takaran dan petunjuk, maka kasuskasus tersebut dapat diminimalisir (Hanum, 2008).
Pada tabel 3.1 dapat dilihat hasil praktikum pencampuran pupuk tunggal anorganik yaitu Urea, ZA, ZK, KCl, dan SP-36, ada yang tidak mengalami perubahan, ada yang memadat, ada yang basah dan ada yang mencair. Hal itu dapat dibuktikan pada tabel 3.2 bahwa  pupuk itu ada yang dapat dicampur dan simpan lama, dapat dicampur untuk segera dipergunakan dan tidak dapat dicampur. KCl dan ZK berdasarkan tabel dapat dicampur dan disimpan lama tapi berdasarkan hasil pengamatan hasil pencampuran pupuk tersebut menjadi padat lama kelamaan menjadi basah. Hal ini disebabkan karena reaksi unsur kimia yang terjadi dalam pupuk tersebut. KCl dan ZA dapat dicampur untuk segera digunakan, jadi maksudnya setelah dicampur harus segera dipergunakan tidak boleh disimpan. Hal ini terlihat bahwa KCl dan ZA mengalami pemadatan dan selanjutnya mencair. KCl dan Urea sama yaitu bisa dicampur tapi harus segera dipergunakan sehingga apabila disimpan terus tidak segera dipergunakan mengalami proses pemadatan dan basah. Selanjutnya KCl dan SP-36 boleh dicmpur dan disimpan lama sehingga hasilnya bagus tidak padat dan tidak juga mencair tetapi pada kondisi terbuka karena pengaruh suhu dan kelembaban udara maka menjadi lembek dan mencair sehingga harus ditutup rapat dalam proses penyimpanan setelah dicampurkan.
ZK dan ZA dapat disimpan tapi harus segera dipergunakan hal ini jelas apabila disimpan lama maka pupuk akan berubah menjadi padat baik yang tebuka maupun tertutup. ZK dan Urea dapat dicampur dan harus segera dipergunakan sehingga apabila disimpan lama pupuk akan menjadi cair baik yang tertutup atau terbuka. ZK dan SP-36 dapat dicampur dan disimpan lama sehingga hasilnya tidak terjadi perubahan tetap, berarti benar dapat disimpan lama setelah dicampur. ZA dan Urea dapat dicampur untuk segera dipergunakan apabila disimpan terus dalam kondisi pencampuran maka pupuk akan menjadi padat dan basah, apalagi dalalam kondisi terbuka pupuk langsung mencair. ZA dan SP-36 dapat dicampur untuk segera dipergunakan sehingga hasil yang diperoleh menjadi padat baik yang tertutup maupun terbuka. Urea dan SP-36 dapat dicampur untuk segera dipergunakan sehingga hasilnya padat dan basah selanjutnya pada kondisi pupuk terbuka menjadi cair. Hal ini jelas bahwa praktikum pencampuran pupuk penting untuk mengetahui proses pencapuran pupuk dilapangan nantinya.
Tabel 3.2 Diagram Pencampuran Pupuk
JENIS PUPUK
KCl
ZK
ZA
UREA
SP
KCl       
*
*
+
+
*
ZK      
*
*
+
+
*
ZA       
+
+
*
+
+
UREA       
+
+
+
*
+
SP   
*
*
+
+
*
Keterangan :  * = dapat dicampur dan dismpan lama
+ = dapat dicampur untuk segera digunakan
#  = tidak dapat dicampur 

BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa sudah mampu dan mengetahui proses pencampuran pupuk dan reaksi yang terjadi setalah dicampur sehingga dapat digunakan sebagai bekal untuk aplikasi dilapangan nantinya pada proses pencampuran pupuk skala besar.

4.2 Saran
1.      Mahasiswa harus terus meningkatkan keterampilan dalam melakukan pencampuran pupuk.
2.      Praktikum pencampuran pupuk harus dilakukan denga hati-hati.


DAFTAR PUSTAKA

Hanum, C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 1. jakarta: Diraktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Irawan, T.B. 2010. Pupuk dan Pemupukan. Jember: Politeknik negeri Jember.

Wikipedia. 2010. Pupuk. http://wikipedia.com/pupuk [6 Maret 2010.













0 comments:

Post a Comment